Ga Bisa Makan di Warteg, ya Makan Ati aja...


Ga Bisa Makan di Warteg, ya Makan Ati aja...

Ga Bisa Makan di Warteg, ya Makan Ati aja...

Saat menikmati makan siang hari ini di warung langganan saya jadi kepikiran, kapan lagi ya saya bisa makan makan siang seenak ini cuma dengan selembar uang 10ribuan dan selembar uang 2 ribuan? Bukan apa-apa, pemerintah DKI Jakarta dengan "brilian"nya berencana mengenakan pajak 10% pada warteg. Otomatis harga makanannya pasti naik kan. Trus rakyat kecil mau makan apa? Selain makan ati tentunya...


Resminya seh: "usaha dengan omzet 60 juta keatas wajib kena pajak." Oke, ini wajar dan bisa dimengerti. Tapi yang harus juga dimengerti adalah warteg dan makanan informal lainnya itu menu rakyat kecil, terjangkau dan bisa diakses dengan mudah. Walau harga warteg sudah ditekan serendah mungkin, masih banyak rakyat Indonesia yang ga sanggup makan di warteg. Percaya deh, been there done that. Apalagi kalau dinaikin harganya karena pajak. 

Pertanyaannya:
1. Apa segitu perlunya untuk nambah penghasilan daerah sampai bela-belain ngejar pajak dari kaum kecil?
2. Kalau pertanyaan 1 jawabannya "ya", atau "demi keadilan", apa yang pembayar pajak gede sudah dikejar-kejar juga?
3. Kalau bisa dengan pedenya menjawab "ya" di pertanyaan 2, maka saya ingin bertanya: sudah dipikirkan belum dampak "kebijakan" ini???

Pajak itu harus, dan perlu. Namun jadinya ga masuk akal kalau rakyat kecil ditekan untuk membayar pajak sementara yang mampu bebas berkeliaran. Ga masuk akal sedemikian banyak orang terkena dampak kebijakan ini secara signifikan dan pemerintah (atau kaum elit) tutup mata. Apalagi karena mereka tidak punya pilihan lain. Kalau ga makan warteg, mau makan apa mereka? Ini bukan "keadilan", ini "kejahatan".

Mungkin wacana ini akan cuma wacana, dan akan hilang seiring dengan tekanan rakyat. Namun adanya wacana ini saja tetap menyakitkan, dan merupakan bentuk ketidakpekaan pemerintah terhadap nasib kaum kecil. Pernah ga sih mereka naik bus berjubel-jubel, atau cuma punya uang pas untuk sampai kampus dan balik? Pernah ga sih ngerasain cuma sanggup beli nasi dan tempe di warteg? Kalau yang buat kebijakan cuma orang-orang (sok) elit dan ga pernah mau ngeliat kebawah, ya apa jadinya. Indonesia bukan hanya Mall-mall besar ber-AC dengan orang-orang yang wangi, bukan juga mobil-mobil mewah dengan kursi yang empuk. Warteg adalah cerminan Indonesia yang sebenarnya. Jadi saya mohon bapak-bapak dan ibu-ibu pemerintah, para kaum elit, please come to your sense! Inget lho, orang yang lapar adalah orang yang marah. Jangan biarkan api anarki muncul cuma karena pajak yang tak seberapa.


Bagaimana pendapat anda tentang post ini?


.