Rejeki Anak Baik Gak Akan Kemana Kok


Rejeki Anak Baik Gak Akan Kemana Kok

Kemarin saya kongkow bersama satu grup mahasiswa S2 dari berbagai negara. Pada masih muda dan cihui banget lho, bahagia jadinya. Eh nggak, nggak, bukan begitu maksud saya. Saya takjub saja melihat dimana saya berada sekarang, dan orang-orang disekeliling saya.

Yang bikin saya betah di Amerika adalah, orang-orang yang saya temui kebanyakan nggak nge-judge, nggak menghakimi. Ada sih pastinya, tapi kebanyakan orang-orang yang saya temui di social setting/acara iseng nggak reseh. Saya bisa datang ke acara yang isinya semua orang yang tidak saya kenal, dan tetap pulang dengan hati bahagia setelah puas haha hihi semalam suntuk. Nggak ada yang ngeliatin dari atas sampai bawah dengan mencibir seolah saya paling nista sejagad, nggak harus juga saling berusaha membuktikan siapa dirinya (baca: pamer barang/ pendidikan/ pekerjaan/ status sosial). Nggak rempong dunia deh.

Tentunya yang somse (sombong sengak) juga ada, apalagi kalau mereka memang punya alasan untuk somse. Biasanya sih saya nggak nemu yang begini di acara-acara yang saya temui, tahu diri juga sama penghasilan soalnya, jadi ke acara yang sesuai kantong hihihi. Tapi contohnya para mas-mas S2 berondong ganteng itu, mereka keuangan mapan jaya lho tapi nggak rese sama saya. Kenapa juga harus rese? Kan kita semua memang setara, bukan?

Rasanya nikmat bebas merdeka banget lho diperlakukan seperti manusia yang setara. Padahal kalau dipikir-pikir siapa saya, admin kantoran gaji UMR yang mobil saja tidak punya. Boro-boro pakai tas mahal, barang paling mahal di badan saya hanya kalung emas pemberian Ibu saya. Kuliah juga cuma S1, dan baru di Amrik 4 tahun, dengan bahasa yang masih blepotan. Jadi ingat waktu teman kuliah mantan pacar saya pulang liburan dari program S2 di Australia, yang mendadak lupa Bahasa Indonesia. Apalah saya coba???

Saya, ternyata, adalah Ary Yogeswary. Paling nggak begitu menurut orang-orang disini. Bukan admin kantor miskin dengan apartemen sebesar kamar kos-kosan di daerah kampus, bukan imigran yang kesini dan numpang hidup dengan nebeng/memanfaatkan suaminya (baca: gold digger/cewek matre atau sekalian mail-order bride). Saya adalah Ary Yogeswary, yang seru kalau diajak ngobrol, yang selalu siap diajak 'gila', yang ceria dan menyenangkan. Sudah, itu saja. Nggak penting berapa gaji saya, apa pendidikan saya, dan seterusnya. Yang penting saya sebagai pribadi. Mereka nyaman dengan saya, ya sudah cukup sekian.

Lagi-lagi, ini saya beruntung selalu menemukan orang-orang yang seperti ini. Banyak juga kok yang menghakimi nggak karuan. Mantan suami saya sempat terhenyak lho (jyaaaah… bahasanya) saat melihat mal-mal di tengah kota Jakarta. Maklum, sebelumnya di Indonesia cuma ke Rumpin (di dekat BSD) dan Pare-pare. Jadi dia dengan manisnya berpikir Indonesia itu lebih 'kurang' daripada daerah asalnya. Saya bawa ke Grand Indonesia dan Senayan City dong. Cihui. Biar gaji rupiah tapi kelas nongkrong mesti tetep asoy. #kibasrambut

Nah, masalahnya, yang menghakimi nggak karuan ini lebih sedikit daripada yang asik-asik aja. Ngerti banget kalau agak pilih-pilih saat PDKT atau di-PDKT-in, tapi kadang di Indonesia baru ngelirik aja udah dicemberutin. Dianggap 'kurang' sedikit (kurang kaya, kurang cakep, kurang cihui), langsung pasang muka "You can't sit with us. Loe ga boleh duduk dekat-dekat gue." Berapa banyak sih dari kita yang bisa bilang, "Oh gue kenal dia di kawinannya ABC, kita ngobrol bareng dan ternyata seru banget!" Jujur saja, setahun hidup sendiri disini saya punya jauh lebih banyak teman daripada 5 tahun hidup di Denpasar.

Buat saya, memandang rendah, menghakimi, menilai seseorang itu sangat nggak manusiawi; apalagi untuk hal-hal yang diluar kendali kita seperti status sosial, pendidikan, atau modal ortu di dompet. Biar sepatu saya cuma diskonan Target (Departement Store sekelas Matahari), tapi bukan berarti saya nggak bisa bikin kamu merasa nyaman, bukan berarti saya nggak bisa ngebantuin kalau kamu lagi butuh bantuan. Dan saya rasa orang disini mengerti itu. Nggak penting apa yang saya pakai, yang penting apa yang kamu rasakan saat bersama/kongkow dengan saya.

Kalau mau menggali lebih dalam lagi, ini juga terkait asas manfaat. Saya ingat waktu di Indonesia kadang mendengar "Wah, enak dong elu temennya [sebut nama anak pejabat/artis/dan sebagainya]". Tapi kan dia temenan sama anaknya, nggak ada urusan sama emak/bapaknya, batin saya. Makanya orang-orang yang status sosialnya lumayan tinggi semua orang ingin jadi best pren, tapi yang biasa aja tolong duduk manis di pojokan. Terus yang orang biasa, muka biasa, nggak ada faedah secara sosial, sana kelaut ajah…

Saya kedengarannya tega, tapi ini benar lho. Contoh paling nyata adalah saat saya kuliah dulu, yang banyak teman-teman sejawat mencibir saat saya getol main ke fakultas ekonomi. Maklum, konon cerita kita anak FK kan yang paling te-o-pe. Tapi orang-orang FE inilah yang membantu saya lulus mata kuliah statistic dengan gemilang, disaat rekan-rekan FK saya sibuk "Wat de pak is this!!!" Kita nggak pernah tahu bagaimana seseorang akan bisa membantu kita didepannya, jadi nggak ada salahnya selalu bersikap ramah dan manusiawi terhadap orang lain. Jangan juga cari teman hanya karena ada perlunya. 

Ini omongan basi yang diulang berkali-kali, tapi hidup sendirian hampir 13 ribu kilometer jauhnya dari rumah membuat saya benar-benar mengerti akan hal ini. Orang-orang di bis yang mengajak saya mengobrol, teman kongkow yang walau ketemu hanya sekali dua tapi tetap heboh saat tak sengaja bertemu lagi, rekan kerja yang ga pake #kibasrambut saat beli mobil atau rumah baru. Kadang-kadang kita nggak perlu alasan untuk menolong atau bersikap ramah. Salah. Kita nggak pernah perlu alasan untuk berbuat baik. Just do it. Lakuin aja.

Tapi saya nggak akan senyaman ini kalau sayanya minta disambit sendal. Saya nggak akan senyaman ini kalau saya yang asas manfaat, kalau saya yang asik ngejudge/ menghakimi orang, kalau saya pilih-pilih kapan dan dengan siapa saya akan berlaku beradab. Apa yang kita terima biasanya sih apa yang kita berikan. Tuhan Maha Adil, kan? Tinggal kitanya yang sadar diri atau nggak hihihi.

Di dunia yang penuh pertentangan (karena jualan permusuhan itu lebih laris daripada jualan gorengan), sangat mudah untuk melabeli orang lain dan berpikir kita 'beda'. Dan ini harusnya nggak terjadi. Minggu lalu 2 orang meninggal karena bereaksi terhadap seorang gila yang memaki-maki 2 wanita Muslim di Portland, Oregon. Kalau mau dirunut lebih jauh, saya bisa menikah dan hidup disini karena di tahun 1965 pengadilan Amerika memutuskan pernikahan antar ras bukanlah tindakan kriminal. Dan di tahun 1955, satu dekade sebelumnya dengan Rosa Parks sebagai ujung tombaknya, diputuskan bahwa pemisahan tempat duduk antara kulit putih dan kulit hitam tidaklah konstitusional, tidak boleh terjadi.

Nggak ada lho yang maksa mereka mengambil keputusan itu. Di jaman 1950-1960an jumlah penduduk kulit putih itu 90%, mayoritas banget. Negara-negara lain di dunia juga belum seperti sekarang yang lantang menuntut penegakan hak asasi. Bisa saja saat itu pemerintah dan penduduk mayoritas pura-pura bego, toh nggak ada faedah langsungnya. Tapi mereka nggak lho. Mereka malah memperjuangkan hak-hak minoritas karena, yah, itu hal yang harus dilakukan. Keadilan bagi semua. [Asal tahu, ada lho yang membela dan kekeh mempertahankan pemisahan ras ini berdasarkan dalil agama/kutipan ayat Alkitab, dengan alasan itu percampuran ras sangat tidak Kristiani].

Hasilnya? Negara mereka maju, karena warga negara terlindungi haknya. Rasisme sih tetap ada, kita sayangnya belum menemukan vaksin untuk kebodohan dan ketidakpedulian, tapi prinsip dasar bahwa setiap orang setara itu sudah merasuk dalam diri mereka. Mau membangun infrastruktur atau program ini itu pun yang harus melibatkan dan demi seluruh masyarakat, bukan pilih-pilih tergantung mana yang demo paling kenceng. Dan itulah kenapa si janda kembang ini (jyaaaaah) bisa hidup aman dan damai di Los Angeles.

Semua berawal dari kita. Sudah mampukah kita melihat seseorang sebagai siapa dirinya, ataukah kita masih silau dengan 'bawaan'nya? Atau lebih parah lagi, berasa jadi asisten nggak resminya malaikat maut dan sibuk menentukan siapa masuk surga dan siapa yang nggak? Hidup tuh cuma sebentar lho. Be happy. Berbahagialah. Perlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan, dan jangan mendahului Tuhan dengan sok tahu menentukan faedah orang. Itu luar biasa lho pahalanya, karena tiap kali saya berdoa saya selalu nggak lupa berterimakasih pada Tuhan akan kebaikan orang-orang ini. Senyuman anda, keramahan anda, sikap anda yang tak memandang rendah orang lain, itu semua akan mengubah hidup orang lain, dan akan mengubah dunia.

Jadi, sudahkah anda bersikap ramah dan manusiawi hari ini?

Update: barusan dikasi kupon bis gratis sama sopir bis huhuhu. Sebelumnya sopir bis jurusan lain (yang kenalan saya) sibuk dadah dadah saat lewat. Bener deh, saya nggak pernah merasa sendirian disini. It pays to be nice. Jadi orang baik itu banyak rejekinya.


Bagaimana pendapat anda tentang post ini?


.

BACA JUGA